
Pulau Bali yang juga dikenal sebagai Pulau Dewata sudah tidak asing lagi di kalangan para wisatawan domestik maupun mancanegara. Hampir semua wisatawan menginginkan agar bisa berlibur di Pulau yang memiliki seribu pura dan bentangan pasir putih yang sangat indah. Keindahan alamnya didukung keunikan seni dan budayanya menjadi kekuatan magis Pulau Bali sebagai destinasi unggulan kelas dunia.

Tidak heran apabila banyak daerah lain di nusantara yang melakukan promosi wisata daerahnya melalui Pulau Bali. Bali juga sebagai pintu gerbang pariwisata Indonesia, sehingga semakin banyak maskapai internasional yang melakukan penerbangan langsung ke Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Pada awal tahun 2016 tercatat Maskapai dari China sudah membuka rute pnerbangan langsung ke Denpasar. Sebelumnya tercatat maskapai China, Maskapai Emirates Airlines juga sudah melakukan penerbangan langsung ke Pulau Dewata, dan selanjutnya menyusul maskapai dari Tionkok yakni Xiamen Airlines juga tercatat telah melakukan penerbangan langsung ke Bali di Tahun 2016.
Bertambahnya maskapai penerbangan asing yang telah membuka rute ke Bali menandakan bahwa Pulau Dewata menjadi magnet tersendiri bagi pelaku bisnis industri penerbangan. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik Provinsi Bali yang ditulis dalam Harian Tribun Bali (5/7/2019), diketahui bahwa jumlah penerbangan internasional pada bulan Mei 2019 di Bandara I Gusti Ngurah Rai tercatat mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut sebesar 3,73 persen dari sebelumnya pada angka 2.947 unit penerbangan menjadi 3.057 unit penerbangan pada bulan Mei 2019. Dikutip dari Harian Tribun-Bali.Com, Kepala BPS Provinsi Bali Adi Nugroho menjelaskan, “Sejalan dengan meningkatnya jumlah unit penerbangan ternyata juga berbanding lurus dengan keberangkatan jumlah penumpang internasional.” Peningkatan jumlah penumpang yang datang berkunjung ke Pulau Dewata sebesar 6,35 persen jika dibandingkan dengan bulan April 2019 yang tercatat sebesar 538,053 menjadi 537.692 orang.
Peningkatan jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara ke Bali harus diimbangi dengan pelayanan yang mengutamakan keamanan dan kenyamanan wisatawan saat menikmati keindahan alam dan keunikan seni budaya Bali yang sudah tersohor ke seluruh penjuru dunia. Keamanan dan kenyamanan ini menjadi mutlak dalam pelayanan, mengingat industri pariwisata adalah salah satu sektor industri yang paling rentan dengan isu yang menyangkut keamanan dan kenyamanan para wisatawan saat berlibur di Bali.
Pulau Bali memiliki berbagai atraksi seni dan budaya yang tidak akan habis-habis untuk dijual kepada wisatawan yang berkunjung ke Bali. Pulau Bali memang memiliki aura religi yang tercermin alam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Oleh karena itu potensi ini bisa dijual kepada wisatawan dalam suatu paket wisata spiritual (spiritual tourism). Dalam paket wisata spiritual ini para wisatawan diajak untuk menelusuri beragam aktivitas yang lebih religius. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dikemas dalam paket wisata religi misalnya upacara perayaan keagamaan Hindu, upacara pembakaran mayat (ngaben) festival yoga, meditasi an bebagai ragam tarian khas Bali
.
Di samping kegiatan wisata spiritual, di Pulau Bali kini juga sudah dikembangkan wisata olahraga tradisional (tradisional sport tourism). Wisata olahraga tradisional yang kini dikembangkan adalah wisata olahraga gulat lumpur yang dalam bahasa Bali nya dikenal dengan nama “Mepantigan”. Kegiatan olahraga mepantigan ini, sebelumnya diawali dengan prosesi upacara yang diiringi dengan gambelan. Setelah itu baru dilakukan kegiatan olahraga gulat tradisional “Mepantigan” ini.

Kalau cermati secara mendalam Pulau Bali sesungguhnya memiliki segalanya sebagai sebuah kawasan wisata. Pantai Sanur dan Kuta yang terkenal dengan keindahan pasir putihnya, Kuta dan Tanah Lot yang terkenal dengan sunsetnya, daerah Buleleng di Bali Utara yang terkenal dengan wisata religinya, Kabupaten Gianyar yang terkenal dengan alam pedesaan dan teras sering yang sangat indah serta produk seni ukir dan kerajinan perak, wisata alam pedesaan di Jatiluwih Tabanan.
Untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dan mengurangi kepadatan lalu lintas di Bali Selatan. Pembangunan akomodasi pariwisata hendaknya dilakukan pemerataan dan tidak hanya terpusat di Bali Selatan saja. Bali Utara, Bali Barat dan Bali Timur perlu dibangun secara bersama sama dengan melibatkan seluruh stakeholder pariwisata.

Tidak hanya pemerataan pembangunan akomodasi pariwisata saja yang harus mendapat perhatian, tetapi akses dan fasilitas pendukung (amenitas) pariwisata yang ada di masing-masing daya tarik wisata harus benar-benar mendapat perhatian dari pemerintah dan seluruh stakeholder pariwisata. Persaingan dalam promosi pariwisata di era global berlangsung semakin ketat. Semua negara berupaya degan semaksimal mungkin mempromosikan destinasi wisata unggulan yang ada di negaranya. Dengan dukungan teknologi yang berkembangn dengan demikian cepatnya, maka kita tentu tidak boleh lengah dalam hal promosi ini. Dengan terus berinovasi, menjaga keunikan tradisi budaya warisan leluhur, didukung dengan strategi pemasaran menggunakan media digital, maka Bali akan siap bersaing dalam menghadapi era persaingan